Minggu, 02 April 2017

Melawan Kecemasan

Sy teringat pernah tidak ceria dan hilang semangat waktu kelas I SMP, alasannya sy dapat nilai ulangan harian bid. studi Geografi 6 skala 1-10, nilai yg sangat jelek dan tidak bisa sy terima. Untuk ulangan tersebut sy sudah mempersiapkan diri dgn belajar dan menghafal materi di buku cetak dgn sangat baik. Pada saat ulangan, sy menulis semua jawaban dgn sangat lancar dan percaya diri dan sangat yakin semua jawaban sy benar.  Begitu mendengar nilai ulangan yg dibacakan langsung oleh guru bid. studi, sy sangat malu, kecewa dan hampir menangis, sy ingin menanyakan pada guru sy bagaimana ia menilai pekerjaan sy atau melihat kembali lembar jawaban sy tpi sy juga takut jgn sampai sy dapat marah dari guru sy.

Jadilah hari itu menjadi lesu, sy tdk berminat bermain dgn teman. Sy terus bertanya dlm hati bagaimana mungkin jawaban sy salah, pasti nilai sy tertukar dgn nilai teman yg semestinya nilai sy 10, dan harusnya sy menikmati hari ini hasil dari perjuangan belajar sy. Beberapa hari kemudian sampai pada melewati satu catur wulan dan kami memperoleh raport dengan rangking yg memuaskan barulah sy bisa merasa lebih senang dan lega.

Beberapa bulan terakhir ini, sy kehilangan semangat bersama dgn rasa cemas yg selalu menghantui. Perasaan negatif itu datang berganti2 atau bersamaan membuat jantung berdegup kencang dan sy kesulitan mengatur nafas, sakit kepala, dan tidak bisa tidur. Kecemasan itu makin tidak terkontrol, dia hadir saat sedang kerja, saat rapat, bersama anak, dan malam hari saat semua orang sedang terlelap nyaman. Hari-hari yg dilalui kemudian terasa kelam, sementara lingkungan sekitar sedang ceria  berwarna, sy melihatnya hanya dalam kacamata duka, suram dan tidak ada harapan.

Dua cerita di atas adalah soal kehilangan semangat. Yang satu karna kecewa, dan lainnya karna cemas. Kecemasan itu menakutkan, pada saat itu juga merampas semangat. Mengacaubalaukan hormon, mencetus depresi. Tertawa menjadi sulit, bersedih dan menangis adalah hal yg paling mudah. Sempat dalam satu dua hari sy merasa jika tdk mempunyai kontrol diri yg cukup maka histeris hampir sj terjadi.

Dalam keadaan putus asa, sy tidak tahu harus kemana, dengan segenap akal sehat yang tersisa sy berbicara dengan sahabat, juga bertemu dengan bapak pendoa, jg bertemu dgn profesional konselor sekaligus pendoa. Mereka membantu sy menemukan apa yg terjadi pada perasaan dan pikiran sy, dan membantu menemukan jalan keluar. Hal-hal penting ini sbb:
  •  Anak sy menerima asi eksklusif kurang lebih 13 bulan, tambah MPASI saat anak umur 7 bulan, karna bekerja kantor pagi sampai sore, untuk menjamin stok Asi sy pumping 3 sampai 4 kali sehari. Dengan kondisi demikian, sy mencoba flash back pola asupan kalori sy sebelum hamil dan setelah melahirkan dan menyusui tetap sama. Sy bukan orang dengan nafsu makan tinggi, porsi makan relatif sedikit. Sy kekurangan kalori, membuat sy selalu kehilangan keseimbangan jika berdiri  dan lemas. Jadi untuk membayar itu (semoga belum terlambat), skrng sy banyak makan dgn tetap menjaga komposisi sehat bernutrisi, dan tdk perduli klo tubuh untuk sementara waktu akan melar.
  • Sy kesepian dan tidak siap menjaga anak sendirian dengan kondisi jarak jauh dgn suami. Sebenarnya long distance dgn suami bukanlah hal baru, sejak bertemu kondisinya memang sdh demikian. Tapi beban psikologis punya anak kecil itu dgn kondisi suami tdk selalu ada setiap saat sangat berbeda wktu dulu kami masih single dan belum menikah. Ini hal lain yg harus saya terima dgn penuh keikhlasan dan kepasrahan menjalaninya.
  • Rasa kesepian makin parah saat menyadari bahwa kami tinggal di rumah baru, jauh dari keluarga, teman, dan gereja. Kitab Suci berkata "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Menikah berarti harus siap dgn konsekuensi ini dan saat menemukan hal-hal tdk mengenakkan dalam rumah baru bukannya menjadi manja dan ingin pulang ke rumah orang tua. Tapi dalam kasus ini, jika memungkinkan ke rumah orang tua adalah lebih baik sambil kembali bisa tenang dan memulihkan diri.
  • Sy orang yg terbiasa berkumpul bersama teman-teman dalam komunitas gereja apakah itu ibadah, mengajar Sekolah Minggu, atau rapat program kerja pelayanan. Beberapa bulan ini, dengan lebih concern ke rumah dan lingkungan baru, sy ketinggalan banyak kegiatan gereja yg sdh jadi rutinitas dan booster semangat sy sejak remaja. Ke rumah ortu yg notabene dekat dgn gereja sehingga sy bisa aktif kembali di pelayanan ampuh melecut semangat dan mengembalikan ketentraman hati.
Tuhan itu baik, Dia menegur sy lewat firmanNya seperti yg Ia katakan pada Marta: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Ya, sy memang banyak kuatir saat ini, kekuatiran yg membuat sy gugup dan sulit berpikir tenang.
Bekerja, mengasuh anak, pelayanan, makan cukup, istirahat cukup memang perkara wajib. Jangan ditambah dgn banyak perkara yg tdk penting yg bisa menyusahkan atau malah menjauhkan kita dari Tuhan. Dibutuhkan hikmat untuk bisa membedakannya. Untuk sy saat ini perkara tdk penting seperti berita politik dan nonton TV ☺

Bagian yg paling penting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan lewat doa dan ucapan syukur, dengan duduk diam di kaki Yesus dan mendengar suaraNya berbicara dalam hati kita.
"Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu."

Makassar, 20 Oktober 2016